Kamis , 13 April 2017, 18:31 WIB

Mengubah Keadaan

Red: Achmad Syalaby
Republika/Wihdan Hidayat
 Ratusan anggota komunitas ODOJers melakukan pawai Tarhib Ramadhan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor, Jakarta, Ahad (5/6). (Republika/ Wihdan)
Ratusan anggota komunitas ODOJers melakukan pawai Tarhib Ramadhan menyambut datangnya bulan suci Ramadhan saat Hari Bebas Kendaraan Bermotor, Jakarta, Ahad (5/6). (Republika/ Wihdan)

REPUBLIKA.CO.ID, Rumah sederhana di depan jalan kereta api menyempil di wilayah Purwokerto, Jawa Tengah. Disini, tinggal laki-laki yang berhasil  menggerakkan umat Islam untuk mencintai Alquran. Bhayu Subrata merupakan pelopor dari komunitas One Day One Juz (ODOJ). Komunitas pencinta Alquran yang kini memiliki anggota hampir 130 ribu orang dari berbagai lintas daerah hingga negara. 

Bhayu mulai membangun kebiasaan satu juz satu hari  secara rutin pada 2004.“Ketika itu saya masih kuliah,” ujar Bhayu. Pada 2004 itu, Bhayu mengaku memiliki sebuah target untuk menguasai sejumlah surah. Dia menjelaskan, semua itu ditulis dan dipasang olehnya di dalam Alquran. Bhayu mengisahkan, ada tiga target yang mulai dijadikan kebiasaan baru olehnya. Ketiga kategori tersebut, yakni bacaan harian, pekanan, dan bulanan.

Selama beberapa waktu Bhayu merutinkan kegiatan mem baca satu juz dalam sehari. Pada 2007 ia memutuskan untuk mengajak para remaja untuk membiasakan mem baca Alquran setiap hari melalui SMS, blog, dan buku saku.Ajakan-ajakan terus dilakukan Bhayu hingga dia pun menikah dengan Siti Istikomah pada 2009. Pada acara pernikahannya itu, Bhayu membagikan sejumlah suvenir Al-Ma’tsurat yang di dalamnya ia selipkan metode One Day One Juz-nya itu. “Nah, di sinilah sudah mulai ada respons yang cukup baik terutama dari kawan saya, Pratama Widodo,” tambahnya.

Pratama Widodo SPd merupakan sahabat Bhayu asal Banjarnegara yang juga ikut berjuang memperkenalkan metode ODOJ kepada umat Islam di Indonesia. Alumnus Pendidikan Sosiologi Antropologi Universitas Negeri Semarang (Unnes) mempromosikan One Day One Juz di media sosial facebook dengan laman grup dan fanspagenya.“Pada awalnya, pihak yang memulai respons di medsos itu berasal dari teman-teman saya yang berkuliah di Unnes,” kata pemuda kelahiran 1987 yang hobi bersepeda dan fotografi itu.

Berbagai media telah diupayakan Bhayu dan Widodo untuk mengenalkan metode One Day One Juz ketika masa awal itu. Pada 2013, Bhayu mengaku telah menerima SMS dari salah satu ODOJers (sebutan followers) yang tertarik dengan metode ODOJ-nya itu.

Menurutnya, orang tersebut memiliki keinginan kuat untuk mengembangkan metodenya itu lebih luas lagi. “Mas Fatah (Fatah Yasin, kepala bidang IT ODOJ— Red) meminta izin ke saya untuk mengembangkan ODOJ dan saya pun mempersilakannya,” ujar dia. Pada November 2013, ODOJ makin berkembang melalui media sosial serupa BBM, whatsapp (WA), twitter, website. Hingga berhasil memecahkan rekor membaca Alquran massal dengan 50 ribu peserta di Gelora Bung Karno. Atas prestasinya tersebut, Bhayu dan Pratama menjadi Tokoh Perubahan Republika 2016. 

 

Berita Terkait