Sabtu , 18 March 2017, 13:08 WIB

Cinta Ulama

Red: Agung Sasongko
dok. istimewa
Ustaz Arifin Ilham bersama DR. Zakir Naik
Ustaz Arifin Ilham bersama DR. Zakir Naik

Oleh: Muhammad Arifin Ilham

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sayyidina Abu Bakar RA selalu mengiringi Rasulullah SAW berjalan pulang setelah menunaikan shalat Isya berjamaah. Keduanya berjalan bersama dan berpisah ketika Nabi masuk rumahnya. Meski berpisah sesaat, tapi terasa berat bagi seorang Abu Bakar. Karenanya, terkadang beliau duduk dan terjaga semalam suntuk di depan pintu rumah Nabi hingga fajar tiba. 

"Mengapa sampai segitunya, duhai Abu Bakar?" tanya Rasul ketika tahu sahabat sejatinya itu menunggui rumahnya sampai menjelang fajar.  

"Sungguh, engkau adalah segala penghias dan pengobat rindu bagi mataku, wahai Rasulullah; qurratu 'ayni bika ya Rasulullah!" jawab Abu Bakar as-Shidiq.

Subhanallah, begitulah kecintaan mendalam seseorang kepada Sang Nabi. Lalu, bagaimana dengan kita yang tak pernah tahu bagaimana rupa Rasulullah SAW. Jawabannya adalah sebagaimana ujaran Imam Hasan al-Basri ketika ditanya tentang amalan yang mendekatkan diri kepada Allah dan yang menyelamatkan pada hari akhir. "Cintailah para aulia atau ulama (orang yang dekat dengan Allah) dan berharap ketika Allah menatap hati para kekasihnya, di sana tertulis namamu. Dan itu akan membuat Allah membiarkan engkau bersama mereka di tempat terbaik-Nya."

Ulama adalah orang-orang yang berjuang di jalan agama melalui ilmu. Mereka adalah orang-orang yang mewarisi Nabi dalam menjaga dan mensyiarkan ilmu-ilmu-Nya. Dari lisan dan amal mereka, umat mendapati khazanah pengetahuan untuk tetap berpegang pada kebenaran di atas Alquran dan as-Sunnah.

Dengan mencintai ulama maka pasti yang ditemukan adalah kebaikan dan keberkahan. Mengambil tangan ulama lalu menciumnya adalah hal indah yang didapat dari mereka yang mencintai ulama. Apalagi, menziarahi dan bersilaturahim kepadanya.

Sebut sebuah hadis, "Barangsiapa mengunjungi orang alim maka ia seperti mengunjungi aku, barangsiapa berjabat tangan kepada orang alim, ia seperti berjabat tangan denganku, barangsiapa duduk bersama orang alim maka ia seperti duduk denganku di dunia, dan barangsiapa yang duduk bersamaku di dunia maka Allah mendudukkanya pada hari kiamat bersamaku." (Kitab Lubabul Hadits).

Dari Abu Harairah RA, saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mengunjungi orang alim, maka aku menjamin kepadanya dimasukkan surga oleh Allah." (Kitab Tanqihul Qaul).

Mencintai ulama berarti mencintai dan meneruskannya dalam amal setiap nasihatnya. Mencintai ulama berarti siap menyokong dan membelanya. Mencintai ulama berarti bersiap menjemput syahid jika ada titah turun kepadanya.

Semoga, umat di negeri ini semakin cerdas dalam menyebar cinta kepada para ulamanya. Ulama yang disayang, bukan malah ditendang. Ulama yang dicintai, bukan malah dizalimi. Insya Allah.