Rabu , 15 March 2017, 14:48 WIB

Karakter Kaum Quraisy, Seperti Apa?

Red: Agung Sasongko
saharamet.org
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir
Ilustrasi kafilah dagang di gurun pasir

Oleh: Setia Gumilar

 

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA --  Hidup ini adalah perubahan. Barang siapa yang mampu melakukan perubahan dalam kehidupannya, niscaya akan meraih kesuksesan dalam menghadapi segala macam tantangan. Dewasa ini berbagai macam tantangan ada di hadapan kita dan sudah pasti memengaruhi eksistensi setiap manusia. Di antara pengaruh yang dapat dirasakan adalah kondisi ekonomi dan politik yang kian memprihatinkan.

Sebagai umat Islam, Alquran mengajarkan kepada kita untuk senantiasa melakukan berbagai perubahan dengan menggunakan akal pikiran yang diberikan oleh Allah SWT. Kita yakin bahwa Alquran menjadi obat bagi Muslim, bahkan menjadi rahmat terhadap berbagai masalah yang terjadi di alam jagat ini. Satu hal yang harus kita pikirkan dan renungkan adalah firman Allah yang termaktub dalam surah Quraisy ayat 1-4.

Ujung surah tersebut menjelaskan tentang kestabilan secara ekonomi dan politik. Stabilnya sebuah kaum diukur oleh kesejahteraan ekonomi dan keamanan secara politik. Tentunya, ujung ayat tersebut ditentukan oleh ayat-ayat sebelumnya. Allah SWT menjelaskan tentang sebuah kaum bernama Quraisy yang mempunyai kebiasaan positif sebagai bentuk dari aktivitas kesehariannya. Artinya, sebuah kaum akan menuju kepada kestabilan hidup sangat ditentukan seberapa jauh kaum tersebut mempunyai aktivitas yang sudah dibiasakan.

Kaum Quraisy mempunyai kebiasan positif untuk melakukan perjalanan dalam musim dingin ataupun panas. Sebuah simbolisasi yang dimaknai bahwa berpikir dinamis, kreatif, dan inovatif harus senantiasa ada dalam karakter setiap manusia. Perjalanan yang dilakukan oleh kaum Quraisy adalah melakukan perdagangan ke negeri Yaman dan Syam.

Dinamisasi dalam perjalanan selalu dilakukan oleh kaum Quraisy seperti halnya mereka melakukan produksi yang bahan mentahnya diambil dari dua negara tersebut dan dijadikan produk untuk dipasarkan secara silang. Makna dari ayat kedua surah Quraisy ini adalah kita diharuskan untuk melakukan mobilitas yang tinggi diikuti oleh selalu membaca situasi dan kondisi yang tidak menghambat terhadap sikap kreatif dan inovatif dalam setiap keadaan.

Sikap ini yang menjadikan kaum Quraisy sebagai kaum yang mempunyai citra positif, bahkan hadis Nabi menyebutkan, pilihlah imam dari kelompok Quraisy. Sikap positif yang tertera dalam ayat 1 dan 2 surah Quraisy tersebut tidak berhenti di situ. Ayat selanjutnya mengharuskan kepada manusia untuk senantiasa melakukan proses bersyukur kepada Allah dengan cara tawakal.

Semua usaha yang dilakukan oleh manusia harus berujung pada konsep syukur dan tawakal. Ketika ini dilakukan maka reward dari Allah SWT adalah kestabilan ekonomi dan politik seperti tertulis dalam ayat 4.

Belajar dari surah Quraisy tersebut, umat Islam sudah selayaknya menjadikan sejarah yang terdokumentasikan dalam Alquran menjadi pijakan untuk senantiasa melakukan perubahan sebagai wujud tanggung jawab kita kepada Sang Pencipta dan kepada sesama makhluk. Berbagai problem yang akan dan sedang terjadi sangat bergantung pada kesadaran kita sebagai khalifah di muka bumi ini. Kesadaran kritis harus menjadi sikap kita sebagai umat yang mengemban amanah untuk melakukan perubahan. Wallahu a'lam.