Kamis , 09 March 2017, 20:19 WIB

Pendidikan Gaya Sekuler Dinilai Ciptakan SDM Anti-Islam

Rep: Amri Amrullah/ Red: Ilham
Republika/ Yasin Habibi
Juru Bicara Muslimah HTI Ifa Ainurrohmah (kiri), bersama anggota Muslimah HTI yang lain mengunjungi kantor Republika, Jakarta, Kamis (9/3).
Juru Bicara Muslimah HTI Ifa Ainurrohmah (kiri), bersama anggota Muslimah HTI yang lain mengunjungi kantor Republika, Jakarta, Kamis (9/3).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) menilai sistem pendidikan di Indonesia yang bergaya sekuler telah menciptakan sumber daya manusia (SDM) yang cenderung anti dengan syariah Islam. Ini disampaikan Muslimah HTI ketika bertandang ke kantor redaksi Republika, Kamis (9/3), sore.

Juru Bicara Muslimah HTI, Iffah Ainur Rochmah mengatakan, sekularisasi pendidikan di dunia, khsusunya di Indonesia sebenarnya menjadi ganjalan dalam menerapkan pendidikan karakter bagi peserta didik. Hal inilah, menurutnya yang terjadi di Indonesia.

Fokus perhatian Muslimah HTI terhadap pendidikan ini berkaitan dengan acara Konferensi Perempuan Internasional, bertema 'Khilafah dan Pendidikan: Menghidupkan kembali masa Keemasan'. Acara ini akan digelar Jumat hingga Sabtu (10-11/3).   

Pengurus Muslimah HTI bagian Asia Tenggara, Fika Komara menambahkan, pendidikan bergaya sekuler ini menjadi permasalahan penting di dunia Islam. Sebab, gaya pendidikan sekuler ini telah merambah berbagai negara berpenduduk Muslim, bahkan negara Arab sekalipun. 

"Sekularisme pendidikan telah membentuk karakter SDM Muslim cenderung anti-Islam. Ini telah terbukti dan bahkan banyak mereka yang lulusan luar negeri di negara negara barat dan kembali ke Indonesia, anti dengan nilai Islam," kata dia.

Nisreen, aktivis pendidikan dari wilayah Teluk yang akan hadir di acara konferensi dan ikut bertandang ke Republika membenarkan kondisi tersebut. Ia mengungkapkan kondisi pendidikan di negara-negara Arab saat ini sudah hampir sepenuhnya mengarah ke model sisten sekuler.

Menurut Nisreen, yang terjadi di banyak negara Arab kini, kurikulum pendidikan berusaha memisahkan nilai Islam dan budaya Arab dengan materi kurikulum barat. Di antaranya, kata dia, upaya pendidikan tahfiz diganti dengan ekstra kulikuler menari, kemudian mencampur murid laki-laki dan perempuan yang selama ini dipisah dalam pendidikan Islam.

Semua itu adalah upaya yang dilakukan dari sistem pendidikan yang sekuler yang mulai berkembang di negara-negara Arab saat ini. Yakni memisahkan nilai agama dengan sistem pendidikan dan kurikulum pembelajaran di sekolah.