Ahad 03 Mar 2013 06:44 WIB

Hikmah di Balik Rambut Beruban

  Seorang jamaah haji mencukur rambutnya usai melontar jumrah Aqabah di Mina, dekat kota suci Makkah, Jumat (26/10).    (Hassan Ammar/AP)
Seorang jamaah haji mencukur rambutnya usai melontar jumrah Aqabah di Mina, dekat kota suci Makkah, Jumat (26/10). (Hassan Ammar/AP)

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh M Husnaini

Sudahkah kepala Anda beruban? Banyak orang merasa risih alias tidak nyaman dengan adanya uban di kepala. Munculnya uban dianggap mengganggu penampilan sehingga harus dicari jalan untuk mengeliminasinya.

Ada yang dengan menyemir rambut pakai warna hitam, mencabutnya, atau bahkan menggundul rambutnya sama sekali. Itu semua tidak lain agar uban tidak lagi nongol di kepala.

Penampilan fisik bagi sebagian orang memang segalanya. Chasing begitu dipuja. Maka tidak usah heran jika aneka salon perawatan tubuh begitu berkecambah, mulai dari kota besar hingga pelosok desa. Penggunanya pun tidak terbatas kalangan atas semacam artis atau pejabat. Tidak sedikit pula rakyat biasa atau pegawai rendahan yang menggemari jasa perawatan tubuh itu.

Merawat tubuh agar tampil indah nan menawan tentu tidak salah. Allah sendiri menyukai keindahan. Dalam sebuah hadis shahih, Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia” (Muslim). Tetapi, merawat tubuh bagi kaum beriman jangan sampai keluar dari rambu agama.

Menurut hadis, manusia yang pertama kali melihat uban di kepala adalah Nabi Ibrahim. Ketika itu, Nabi Ibrahim lantas bertanya kepada Allah, “Ya Rabbi, apakah ini?” Allah menjawab, “Ini adalah kemuliaan dan kelembutan wahai Ibrahim”. Jelaslah, uban bukan aib atau keburukan.

Rasulullah sendiri beruban. Diriwayatkan, Abu Bakar bertanya kenapa rambut beliau begitu lekas beruban. Rasulullah menjawab, “Surat Hud, Al-Waqiah, Al-Mursalat, An-Naba, dan At-Takwir, itulah yang menyebabkan rambutku lekas putih”.

Rasulullah ngeri dengan surat-surat itu karena banyak bercerita tentang kedahsyatan kiamat dan balasan atas keingkaran umat-umat terdahulu. Rasulullah amat takut sekiranya yang menerima ayat-ayat azab itu adalah umat beliau sendiri, yaitu kita.

Maka soal uban, Rasulullah menegaskan, “Uban adalah cahaya bagi seorang mukmin. Tidaklah seseorang beruban, walau hanya sehelai, kecuali setiap ubannya akan dihitung sebagai kebaikan yang akan meninggikan derajatnya”. (Shahihul Jami’).

Dan meski umumnya uban tumbuh pada umur 40 tahun, faktanya tidak sedikit orang sekarang sudah beruban meski umurnya baru 25-an tahun. Bagi kaum beriman, tentu uban harus dimaknai sebagai peringatan bahwa hidup di dunia tidak pernah lama. “Uban merupakan tanda perpisahan dengan masa kanak-kanak,” demikian dijelaskan Imam Al-Qurthubi.

Dengan kata lain, ketika kepala kita sudah ditumbuhi uban, berarti kita telah dewasa dan bertanggung jawab penuh atas setiap ucapan dan tindakan kita di dunia. Semua ada harganya di mata Allah. “Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir, dan apakah tidak datang kepadamu peringatan?” (Fathir: 37). Menurut sebagian mufasir, makna peringatan dalam ayat ini adalah uban.

Demikian juga ketika Allah telah memberi umur kepada manusia hingga 60 tahun, berarti Allah tidak akan menerima alasannya tidak taat kepada Allah. Tidak ada bonus umur ketika ajal menjemput. Padahal, Allah telah menakdirkan umur umat zaman ini tidak sepanjang umat terdahulu. Rasulullah bersabda, “Umur umatku antara 60 hingga 70 tahun. Sedikit dari mereka yang melebihi itu.” (At-Tirmidzi, dihasankan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari, 11/240). Bahkan ajal kerap menjemput kita dalam umur yang lebih muda dari  itu.

Tentu ini mengandung hikmah sendiri. Yaitu agar kita tidak terlibat dengan urusan dunia kecuali sebentar. Umat-umat terdahulu yang diberi umur panjang, badan kuat, dan rezeki banyak terbukti malah sombong dan berpaling dari Allah. Kita diberi jatah umur pendek, badan lemah, dan sedikit rezeki, hikmahnya adalah agar kita lebih bersyukur dan mengabdi kepada Allah (Faidhul Qadir Syarh Al-Jami As-Shaghir).

Kinilah saatnya kaum beriman bijak dalam berhitung. Bertambahnya umur sesungguhnya adalah berkurangnya jatah hidup di dunia. Adalah fakta bahwa meski sudah paham hidup ini fana, banyak dari kita yang terlena. Gemerlap dunia begitu memukau mata hati kita. Maka harus ada tanda fisik yang menjadi pengingat. Dalam kaitan inilah uban menjadi penting maknanya.

Penulis adalah Mahasiswa Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement