Kamis , 07 September 2017, 22:00 WIB

Menjadi Wanita Karier

Red: Agung Sasongko
Republika/Musiron
Wanita karier
Wanita karier

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemikiran klasik menganggap peran wanita zaman dahulu tidak lebih dari urusan kasur, sumur, dan dapur. Waktu itu, kaum wanita dianggap tak perlu sekolah tinggi-tinggi. Toh pada akhirnya mereka akan menikah, menjadi istri, dan kembali ke "kodrat" mereka mengurusi kasur, sumur, dan dapur tadi.

Semakin maju cara berpikir dan didukung teknologi dan informasi, kaum wanita tak mau lagi jika didoktrin demikian. Sebagaimana laki-laki, wanita juga ingin mempunyai karier dan dunianya sendiri. Namun, ada juga yang kebablasan dengan dalih emansipasi wanita. Kaum wanita bahkan lebih agresif dibanding laki-laki di dunia karier. Bagaimanakah sebenarnya tuntunan Islam dan batasan syariat bagi wanita yang ingin berkarier?

Dalam beramal kebajikan, Allah SWT tidak membeda-bedakan gender. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk beramal saleh sebaik-baiknya. Firman Allah SWT, "Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan,"(QS Ali Imran [3]: 195).

Laki-laki dan perempuan mendapatkan kesempatan yang sama dalam beramal saleh. Keduanya sama-sama mendapatkan balasan di akhirat kelak atas usaha mereka dalam bidang kebaikan. Jadi, dalam konteks fastabiqul khairat (berlomba-lomba dalam kebaikan) laki-laki dan perempuan benar-benar sama di hadapan Allah SWT.

Firman-Nya, "Siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik," (QS an-Nahl [16]: 97). Tak ada dalil secara mutlak yang melarang kaum wanita bekerja. Apalagi, konteks pekerjaan tersebut adalah amal saleh serta menyemai kebaikan di masyarakat.