Selasa , 18 April 2017, 13:54 WIB

Bolehkah Shalat Menggendong Anak?

Rep: Syahruddin el-Fikri/ Red: Agung Sasongko
Republika/Raisan Al Farisi
 Seorang ibu yang menggendong anaknya menangis saat melakukan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (12/12).
Seorang ibu yang menggendong anaknya menangis saat melakukan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Pusat Dakwah Islam (Pusdai) Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (12/12).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Allah SWT memerintahkan umat Islam agar senantiasa mengerjakan ibadah shalat dengan khusyuk. Karena hanya mereka yang khusyuklah yang akan mendapat keberkahan dan keberuntungan dari Allah SWT. Sungguh, beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) mereka yang khusyuk (dalam shalatnya). (QS al-Mukminun [23]: 1-2).

Menurut Syekh ‘Ala’uddin Ali bin Muhammad bin Ibrahim al-Baghdadi dalam kitab Tafsir al-Khazin (juz V halaman 32), khusyuk dalam shalat adalah menyatukan konsentrasi dan berpaling dari selain Allah serta merenungkan semua yang diucapkannya, baik berupa bacaan Alquran ataupun zikir.

Setiap orang tua berkewajiban mendidik putra-putrinya agar taat kepada Allah. Seorang ayah mengajarkan kepada anaknya tentang shalat lima waktu, membaca Alquran, berpuasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat, bersedekah, dan lain sebagainya.

Sebab, anak merupakan penerus orang tuanya, dan ia harus dididik dengan pendidikan yang baik, terutama pendidikan akhlak. Dalam Alquran Allah menyatakan; Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (QS an-Nisaa [4]: 9).

Karena itu, sudah semestinya, setiap orang tua mendidik putra-putrinya agar menjadi orang yang kuat dan mampu. Kuat dalam pengetahuan agama, kuat dalam bidang ekonomi, kuat dalam pemikiran (pendidikan), dan lainnya.