Senin , 20 Maret 2017, 11:51 WIB

Benarkah Ibnu Taimiyah Anti-Tasawuf Secara Mutlak?

Rep: Hasanul Rizqa/ Red: Nasih Nasrullah
Antara/Dewi Fajriani
Penari Sufi asal Turki memeriahkan Islamic Fashion Festival di Mall Ratu Indah , Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (26/11).
Penari Sufi asal Turki memeriahkan Islamic Fashion Festival di Mall Ratu Indah , Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (26/11).

REPUBLIKA.CO.ID, Semasa Ibnu ‘Atha’illah menjabat sebagai guru besar Universitas al-Azhar, ajaran-ajaran Ibn ‘Arabi (w 638 Hijriyah) sedang memasuki iklim akademik di Mesir. Sebagai seorang pemimpin tarekat, Ibnu ‘Atha’illah termasuk kalangan yang membela Ibn ‘Arabi. Sebab, ia memandang sufi asal Andalusia tersebut patut dihormati. Dalam dunia tasawuf, Ibn ‘Arabi bahkan memiliki julukan Syekh al-Akbar (guru besar). 

Karya-karya penting Ibn ‘Arabi antara lain al-Futuhat al-Makkiyah dan Fushush al-Hikam. Di sana, ia kerap mengkritik umat Islam pada zamannya yang dinilai lemah dalam menggali pendekatan intuitif. 

Pemikiran Ibn ‘Arabi bukan tanpa pertentangan. Salah seorang yang paling terdepan mengecamnya adalah Ibnu Taimiyah (w 728 Hijriyah). Sebenarnya, cukup banyak kesamaan antara Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Atha’illah.

Keduanya sama-sama pakar di bidang fikih. Usia keduanya juga terbilang sebaya. Bedanya, Ibnu Taimiyah lahir di Kota Harran, Suriah, sedangkan Ibnu ‘Atha’illah lahir di Iskandariyah, Mesir. Artinya, Dunia Barat dan Dunia Timur Islam.

Kitab Ibnu Taimiyah al-Faqih al-Muadzdzab karya Abdurrahman asy-Syarqawi mencatat bagaimana diskusi yang panjang antara Ibnu Taimiyah dan Ibnu ‘Atha’illah.

Judul buku tersebut secara harfiah berarti Ibnu Taimiyah, Ahli Fiqih yang Tersiksa. Dengan demikian, kentara keberpihakan penulis pada Ibnu ‘Atha’illah.

Namun, apakah Ibnu ‘Atha’illah sendiri memandang Ibnu Taimiyah sebagai musuh? Ternyata tidak begitu. Dirawikan, pada tahun 700 Hijriyah, Ibnu Taimiyah mengadakan lawatan ke Mesir. Sebagaimana di negeri asalnya, Ibnu Taimiyah melancarkan serangan terhadap kaum salik. 

Kecaman ini terbilang amat pedas, kendati ia mengakui peran para sufi dari abad-abad sebelumnya yang berjuang di medan jihad.

Namun, bagi Ibnu Taimiyah, kaum salik zamannya banyak yang menyimpang dari Islam. Dia menyebutkan beberapa contoh, yakni Ibn ‘Arabi, al-Hallaj, Ibn al-Faridh, dan bahkan Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili (pendiri tarekat Syadziliyah yang sempat dipimpin Ibnu ‘Atha’illah.

Begitu resahnya masyarakat Mesir dengan kedatangan Ibnu Taimiyah. Bahkan, beberapa perwakilan warga meminta Sultan untuk segera mengusir atau memenjarakan Ibnu Taimiyah.

Mengetahui hal ini, Ibnu Taimiyah lebih memilih dipenjara. Namun, belum tiba keputusan final, Ibnu Taimiyah diminta untuk segera datang ke Kairo.

Setibanya di kota tujuan pada waktu petang, Ibnu Taimiyah melaksanakan shalat maghrib di Masjid Universitas al-Azhar. Tanpa disadarinya, ternyata Ibnu ‘Atha’illah sudah menjadi makmum di belakangnya.

Sesudah itu, terjadilah dialog berikut ini, sebagaimana dikutip dari buku Sepintas Sastra Sufi Tokoh dan Pemikirannya karya M Fudoli Zaini.

Ibnu ‘Atha’illah (IA) : “Apa yang Anda ketahui tentang diri saya, wahai Syekh Ibnu Taimiyah? Saya heran kepada Anda, wahai faqih. Anda seorang pendukung sunah, hapal dan paham terhadap atsar-atsar, sempurna dalam pemikiran dan pemahaman.

Namun, Anda telah melancarkan ungkapan-ungkapan yang orang-orang terdahulu dan sekarang menolak menggunakannya. Hingga dalam hal ini, Anda telah keluar dari mazhab imam Anda, yaitu Imam Ahmad ibnu Hanbal dan mazhab imam-imam lainnya.”