Rabu , 05 April 2017, 06:59 WIB

Empat Cara Penyembuhan Trauma untuk Korban Longsor Ponorogo

Rep: Lida Puspaningtyas/ Red: Dwi Murdaningsih
Republika/Raisan Al Farisi
Lansekap longsor yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (4/4).
Lansekap longsor yang terjadi di Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo, Jawa Timur, Selasa (4/4).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Korban longsor Ponorogo perlu pendekatan khusus untuk menyembuhkan trauma akibat bencana. Praktisi Psikologi, Mohamad Soleh menilai ada empat cara yang bisa diterapkan dalam membantu mereka.

"Ada empat pendekatan, pertama melalui psikologi Islami, kemudian pendekatan sosial, fisik dan sistematik," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (4/4). Pendekatan psikologi Islami ini merujuk pada teknik terapi berdasarkan nilai-nilai Islam.

Seperti pembelajaran kembali soal ikhlas, menerima keadaan, berdzikir, bersyukur, mengingat kekuasaan Allah SWT dan lainnya. Sementara pendekatan sosial lebih pada mengeratkan kembali hubungan sosial korban dengan lingkungan sekitar.

Soleh menyarankan pemerintah daerah bisa merelokasi seluruh korban ke satu tempat yang sama. Agar mereka bisa saling menguatkan dan secara tidak langsung menyembuhkan satu sama lain.

"Ada perasaan 'oh iya si anu juga kehilangan kakaknya, keluarganya, istrinya, saya tidak sendiri, bisa bangkit," kata Soleh. Menurutnya penyembuhan kolektif di lingkungan berperan besar dalam meminimalisir trauma.

Selain itu, ada pendekatan fisik agar korban merasa baik-baik saja. Seperti semua luka fisiknya disembuhkan, sering ditemani, diberikan motivasi. Sehingga mereka tidak merasa sendiri atau ditinggalkan.

Terakhir adalah pendekatan sistematik. Pada akhirnya, korban perlu belajar kembali untuk bangkit dan dididik untuk kembali mandiri. "Sebaiknya ada sistem yang melibatkan mereka kembali dalam kehidupan sosial, seperti membantu korban lainnya, sehingga mereka merasa penting dan dibutuhkan," kata Soleh.

Founder Smart Empowerment Technique (SET) ini menyampaikan memang perlu waktu untuk sembuh dari trauma. Namun semua upaya harus tetap diupayakan agar komunitas ini bisa kembali berkembang dan mandiri bangkit dari bencana.