Kamis , 01 Desember 2016, 13:56 WIB

212, Bukti Empowering Indonesia yang Fenomenal

Red: Dwi Murdaningsih
Republika/Mahmud Muhyidin
Rombongan peserta longmarch dalam aksi Bela Islam 212 Jilid III dari Ciamis bejalan kaki di Jalan Raya Soekarno Hatta, Kota Bandung, Kamis (1/12)
Rombongan peserta longmarch dalam aksi Bela Islam 212 Jilid III dari Ciamis bejalan kaki di Jalan Raya Soekarno Hatta, Kota Bandung, Kamis (1/12)

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Mohamad Soleh, founder Program Nasional Empowering Indonesia

Sudah puluhan ribu orang saya training, sudah ratusan organisasi dan perusahaan saya bantu untuk membuat agar pegawainya bergerak untuk bekerja lebih baik lagi. Bila perlu melebihi kapasitasnya. Dan, sekali lagi, asumsi saya terbukti. Keimanan dan semangat spiritual itu jauh lebih powerfull dalam mengubah dan menggerakkan seseorang untuk bertindak melebihi kapasitas biasanya.

Itulah perjalanan para  Kafilah Mujahid Ciamis menuju Jakarta demi acara 212. Mereka ter-Empowering oleh “Lillahi ta’ala”. Demi Allah, Demi membela Alquran yang (diduga) telah dinistakan. Itulah orang-orang Indonesia yang ter-Empowering, sebenarnya. Demi keyakinan dan semangatnya tersebut, mereka rela berjalan 250an km, rela meninggalkan aktivitas dan rumah nyaman mereka, rela kepayahan dan kehujanan. Masyaallah. Semoga keberkahan dan amal ibadahnya selalu di Ridhoi-Nya.

Kembali, Prinsip ketok tular terjadi. Jalur-jalur perjalanan yang dilalui kafilah tersebut, akhirnya membuat warga sekitar tergerak ikut berkontribusi. Dari memberikan makanan minuman, peralatan perjalanan, dan apapun hal-hal pendukung lainnya yang sekiranya diperlukan kafilah mujahid Ciamis tersebut. Merekapun ter-empowering oleh keimanan dan keinginan untuk berkontribusi membantu para kafilah mujahid Ciamis tersebut.

“Kami lakukan ini karena kami tidak bisa ikut kafilah menuju Jakarta, jadi kami lakukan apa saja yang membuat kafilah berhasil mengikuti kegiatan 212 di monas nanti, ini karena Hamba Allah, bukan dari partai politik,” kata para masyarakat yang menunggu para kafilah untuk memberikan makanan dan minuman.

Hati saya terenyuh, tersentak. Ingin menangis. Saya termasuk orang yang sangat jarang menangis. “Mereka yang bukan warga Jakarta saja bela-belain untuk datang ke Jakarta, saya kok yang asli Betawi dan tinggal di Jakarta, belum bergerak juga,” pikir saya. Tanpa pikir panjang, langsung saya mempersiapkan diri untuk 212 nanti.

Ini adalah sebuah refleksi kondisi Indonesia yang Fenomenal bagi saya, dan saya ingin ikut terlibat di dalamnya. Bagi saya, ini adalah Empowering Indonesia yang fenomenal.