Senin 23 Apr 2018 18:31 WIB

Said Nursi, Sosok yang Cinta Tanah Air

Ia ikut berjuang membela Turki Utsmaniyah dalam Perang Dunia I

Era Dinasti Ottoman.
Foto: Aksitarih.com
Era Dinasti Ottoman.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejatinya, ia adalah seorang yang cinta damai, namun ia sangat cinta tanah airnya. Ketika Perang Dunia I meletus dan Turki Usmani pun terlibat, ia pun dengan sigap memanggul senjata dan bergegas ke medan perang. Said Nursi bersama para muridnya dengan segala daya yang dimiliki turut serta menghadapi tentara Rusia.

Selama terlibat dalam pertempuran itu, ia tetap mencurahkan waktunya untuk ilmu pengetahuan. Saat perang saja, ia berhasil menyusun tafsirnya yang sangat berharga yang berjudul Isyarat al-I’jaz Fi Mazhan al-Ijaz dalam bahasa Arab. Penyusunan tafsir ini dikerjakan dengan cara didiktekan kepada seorang muridnya yang bernama Habib. Ketika pasukan tentara Rusia memasuki Kota Bitlis, bersama para muridnya ia berjuang untuk mempertahankannya.

Ia tertangkap oleh pasukan Rusia dan dibawa ke salah satu satu markas tawanan militer di Qosturma yang terletak di timur Rusia. Saat berada di pengasingan sebagai tawanan perang selama dua tahun, Said Nursi berhasil melarikan diri setelah meletusnya Revolusi Bolsyevik.

Setelah pulang ke Istanbul, Nursi diangkat menjadi anggota Darul Hikmah al-Islamiyah. Pengangkatan itu dilakukan tanpa sepengetahuannya. Pengangkatan itu dilakukan sebagai penghargaan kepada Said Nursi. Darul Hikmah beranggotakan para ulama terkemuka.

Ia pun mengalami transformasi spiritual yang menyebabkannya berubah dari Said Qadim ke Said Jadid. Ketika Inggris berhasil menduduki Istanbul pada 16 Maret 1920, ia menyelesaikan buku karangannya yang berjudul al-Khuthuwat as-Sittah (Enam Langkah) yang mengkritik serangan Inggris.

Atas jasanya terhadap Turki dan Perang Dunia I, ia berulang kali diundang ke Ankara oleh Mustafa Kemal Ataturk. Ia lalu berangkat memenuhi undangan itu pada 1922. Said Nursi tak betah tinggal di Ankara karena kebanyakan anggota dewan tidak aktif shalat, suatu hal yang membuatnya sangat sedih.

Ia pun berpidato di Majelis Nasional pada 19 Januari 1923. Ia berseru agar anggota dewan menjalankan kewajiban Islam. Said Nursi diasingkan pemerintah ke Burdur, Turki Barat, setelah terjadinya pemberontakan di Turki Timur di bawah pimpinan seorang pemimpin Tarekat Naqsyabandiah pada 1925.

Padahal, Said Nursi sama sekali tak terlibat dalam pemberontakan itu. Sejak itu, ia hiudp di penjara atau pengasingan selama 24 tahun. Selama periode ini, dia mengarang kitab yang paling monumental, yakni Risalah Nur.

Setelah bebas dari penjara Eskisehir, Nursi dikirim ke tempat pengasingan kedua, yaitu Kastamonu pada 1936 selama tujuh tahun. Selama tinggal di Kastamonu, ia melanjutkan penulisan Risalah Nur. Pada periode ini, Nursi selalu berkoresponden dengan para muridnya secara rahasia. Surat-suratnya disalin dan disebarkan ke berbagai kampung, desa, dan kota-kota sekitar Kastamonu.

Aktivitas menyalin pun tumbuh dan berkembang. Di antara para murid yang aktif menyalin ini ada yang berhasil menyalin lebih dari seribu surat. Langkah tersebut akhirnya membuahkan enam ratus ribu eksemplar manuskrip Risalah Nur.

Pada tahun 1943, Nursi dikirim ke Denizli untuk dipenjarakan dengan tuduhan-tuduhan yang tak masuk akal. Ia dipenjara karena menulis Risalah Nur. Pengadilan membentuk tim ahli untuk meneliti Risalah Nur. Hasilnya, mereka tidak menemukan unsur yang mengharuskan Nursi didakwa dengan tuduhan-tuduhan yang selama ini dialamatkan kepadanya.

Pada 15 Juni1944, ia dikeluarkan dari penjara Denizli. Namun, Nursi diharuskan menempati sebuah rumah di Kecamatan Emirdag di Afyon. Ia tinggal di Emirdag sampai 1948. Selama empat tahun, ia dikunjungi masyarakat dan muridnya. Ia berusaha menyebarkan Risalah Nur ke seluruh pelosok Turki melaui para pembacanya.

Pada 23 Januari 1948, polisi menggerebek dan menggeledah rumah Nursi. Ia bersama muridnya ditangkap dan dijebloskan ke dalam sel rutan Kota Afyon dengan alasan yang dibuat-buat dan penuh rekayasa. Selama masa pengasingan dan penjara (1926-1950), Halaqah, pengajiannya, tumbuh dan berkembang. Murid-muridnya pun aktif mempelajari Risalah Nur dan menyalin serta menyebarluaskannya ke seluruh penjuru Turki.

Ia telah berupaya untuk menyelamatkan iman di kalangan masyarakat Turki. Setelah 1950, Said Nursi memasuki periode Third Said. Ia sempat terkait dengan kemenangan Partai Demokrat pada 1950. Tetapi, keterlibatan Nursi dalam bentuk dukungan dan bimbingan kepada Partai Demokrat digambarkannya sebagai ahwan as-syarr (yang paling sedikit keburukannya di antara yang buruk).

Said Nursi mendukung Partai Demokrat agar menghalangi Partai Rakyat Republik untuk tidak memerintah kembali. Pada periode ini, Said Nursi tinggal bersama murid-murid dekatnya untuk membimbing mereka dan mengajar metode dakwah Risalah Nur.

Setelah mengabdikan hidupnya untuk tetap menjaga agama Islam, Said Nursi meninggal dunia pada 1960. Akan tetapi, pemikiran dan ajarannya tetap berkembang dan diterima di seluruh penjuru dunia hingga sekarang.

sumber : Mozaik Republika
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement