Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Minggu, 12 Ramadhan 1439 / 27 Mei 2018

Muslim Kosta Rika Tumbuh di Tengah Iklim Toleransi

Sabtu 21 April 2018 22:00 WIB

Red: Agung Sasongko

Toleransi (ilustrasi)

Toleransi (ilustrasi)

Foto: Republika/Prayogi
Umat Muslim telah ada sejak tahun 1970-an.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kosta Rika memiliki tradisi toleransi yang tinggi. Faktor inilah yang membuat negara seluas 19.730 mil persegi itu menjadi pilihan bagi kaum pendatang untuk menetap. Umat Muslim dari negara-negara Afrika Utara, Timur Tengah, atau Asia Tengah menemukan lokasi yang ideal untuk memulai hidup baru.

 
Umat Muslim telah ada sejak tahun 1970-an. Mereka membentuk komunitas kecil di ibu kota San Jose. Tidak kesulitan untuk beradaptasi kendati warga Muslim berasal dari berbagai negara dan latar belakang.
 
Warga lokal menyambut baik kehadiran para pendatang. Seperti disebutkan laman state.gov, kaum imigran tersebut terdiri atas beragam suku, etnis, budaya, dan agama. Tapi, hampir tidak ada pertikaian yang melibatkan kedua kelompok ini.
 
Pemerintah juga tidak membatasi aktivitas keagamaan. Konstitusi negara menjamin kebebasan menjalankan ajaran agama kepada anggota masyarakat. Kebijakan ini menumbuhkan optimisme bagi umat agama untuk semakin bereksistensi.
 
Tidak ada pembatasan bagi kegiatan ibadah, dakwah, ataupun pendidikan agama. Sewaktu umat Muslim membutuhkan sarana peribadatan dan berencana membangun masjid serta Islamic Center, hal itu bisa terlaksana dengan baik.

Kini, telah berdiri kokoh Masjid Omar di San Jose yang diketuai oleh Syekh Elsafi Abdul Majid serta Centro Cultural Musulman de Costa Rica di Alajuela pimpinan Jenny Rashida Torres. Di sinilah, komunitas Muslim bisa melaksanakan beragam kegiatan sosial keagamaan.

Jumlah umat Muslim yang tidak terlampau banyak justru mampu memperkuat ikatan persaudaraan. Mereka kerap menggelar aktivitas bersama. Masjid Omar secara periodik menyelenggarakan sekolah agama bagi anak-anak Muslim demi meneguhkan keimanan. 


Sesuai konstitusi pula, negara tidak menoleransi tindakan apa pun yang bertujuan merusak kondisi harmonis antaragama. Pelanggarnya diancam dengan hukuman berat. Oleh karena itu, menurut laporan laman tadi, diskriminasi atas dasar agama atau etnis jarang terjadi.
 
Agama resmi negara adalah Katolik Roma. Penganutnya mencakup 47 persen, kemudian 25 persen penganut Kristen non-Katolik, dan 13 persen menganut Protestan. Selebihnya adalah umat agama lain, termasuk Islam.
 
Pemerintah memberikan subsidi kepada agama mayoritas. Namun, bantuan demi kepentingan ibadah juga berlaku kepada agama minoritas. Kemudahan juga diberikan untuk membentuk lembaga atau organisasi keagamaan, bahkan tanpa dipungut pajak. Guru atau pendakwah dari luar negeri dapat melaksanakan kegiatan di negara ini, tetapi tentu dengan aturan tertentu. Bila kondisi ini dapat dipertahankan, Islam akan mampu bertumbuh kembang dan mewarnai keseharian masyarakat di Kosta Rika.

Sumber : Islam Digest Republika
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA